Greenland Menolak Jadi Bagian Amerika Serikat, Trump Instruksikan Penyusunan Rencana Invasi
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan
telah memerintahkan komandan pasukan khusus untuk menyusun rencana
invasi ke Greenland. Laporan tersebut menunjukkan Trump disebut serius
dengan ancamannya terhadap wilayah otonom Kerajaan Denmark itu.
Namun, menurut laporan WN yang dikutip Minggu (11/1/2026),
sejumlah petinggi militer AS meragukan rencana tersebut karena dinilai
bermasalah dari sisi legalitas dan kelayakan politik.
Laporan The Mail menyebutkan, Trump—dengan dukungan
penasihat politik Stephen Miller—ingin bergerak cepat untuk menguasai
Greenland sebelum Rusia atau China mengambil langkah lebih dulu. Dalam
konteks itu, Komando Operasi Khusus Gabungan (JSOC) disebut telah
diminta menyiapkan skenario invasi.
Ancaman Trump terhadap Greenland bukan hal baru. Setelah
penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Trump semakin sering
melontarkan pernyataan soal keinginannya mengambil alih Greenland.
Dalam pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak di
Gedung Putih, Trump mengatakan AS akan “melakukan sesuatu di Greenland, suka
atau tidak suka”, dengan alasan mencegah Rusia atau China menguasai pulau strategis
tersebut. Ia juga menepis kekhawatiran Denmark, dengan menyebut klaim sejarah
tidak otomatis berarti kepemilikan wilayah.
Pernyataan tersebut disampaikan meski AS telah memiliki kehadiran
militer di Greenland berdasarkan perjanjian bilateral tahun 1951. Greenland
sendiri merupakan wilayah otonom Denmark dengan populasi sekitar 57.000 jiwa.
Sementara itu, partai-partai politik di Greenland secara
tegas menolak gagasan bergabung dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataan
bersama, lima partai di parlemen Greenland menegaskan bahwa masa depan wilayah
tersebut harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri, tanpa tekanan atau
campur tangan negara lain.
“Kami tidak ingin menjadi orang Amerika, kami juga tidak
ingin menjadi orang Denmark. Kami ingin menjadi orang Greenland,” demikian
pernyataan bersama para pemimpin partai.
Sejumlah warga Greenland juga menyuarakan penolakan serupa.
Mereka menilai campur tangan AS berpotensi merusak hubungan dan kepercayaan
antara Greenland dan Denmark. Meski ada wacana kemerdekaan penuh dari Denmark,
banyak warga menilai langkah tersebut tidak bisa dilakukan secara
tergesa-gesa.
Di sisi lain, Denmark dan sekutu Eropa menyatakan
keterkejutan atas ancaman Trump. Greenland dinilai memiliki posisi strategis di
kawasan Arktik dan menyimpan sumber daya alam melimpah, termasuk mineral
langka serta potensi cadangan minyak dan gas.
Trump berulang kali menegaskan bahwa penguasaan Greenland
penting bagi keamanan nasional AS, seiring meningkatnya aktivitas
militer Rusia dan China di Arktik. Namun, baik Moskow maupun Beijing tidak
pernah mengklaim kepemilikan atas pulau tersebut.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bahkan
memperingatkan bahwa invasi ke Greenland dapat mengakhiri tatanan keamanan
transatlantik dan mengguncang pakta pertahanan NATO yang telah terbentuk
sejak Perang Dunia II.
Comments
Post a Comment